Posterous
Jackson is using Posterous to post everything online. Shouldn't you?
6174_1161807376265_1560241552_401041_6646404_n_thumb
 

Jackson Kumaat

Mohon masukan dan kritik-saran jika Jackson Kumaat aktif sebagai Politisi Muda untuk tranformasi Indonesia. kirim via sms ke no HPku : 08159932276 atau email ke jackson.kumaat@yahoo.com

Batik Cak Mansyur

SEMUA orang kini bangga mengenakan batik. Apakah sikap ini setelah pengakuan UNESCO atas batik Indonesia? Atau sebagai bentuk sikap nasionalisme dan perlawanan terhadap fashion Barat? Pertanyaan ini menggelitik pikiran saya.

Akhir pekan ini saya jalan keliling kota. Dan niat itu didasari oleh keinginan membeli baju batik di Pasar Tanah Abang. Kebetulan memang, stok baju batik saya jumlahnya terbatas, khususnya baju berlengan pendek. Saya kurang paham dengan motif batik. Saya cuma ingin mencari batik yang warnanya cerah, karena menurut istri saya, warna yang cerah membuat saya terlihat segar dan tampil lebih mudah.

Dan, tiba di lantai dasar Blok A Pasar Tanah Abang, saya dapati sebuah kios yang menjajakan Batik. Saya melihat banyak batik di sana. Ada untuk perempuan khususnya rok dan baju terusan, dan ada pula baju batik pria dengan berbagai disain. Nah, saya pun merasa cocok dengan corak batik yang ada.

Sang pemilik kios batik ternyata berasal dari Jawa Timur, namanya Manyur. Saya langsung panggil dia dengan sebutan ‘cak’, karena sapaan itu memang biasa diungkapkan untuk pria di sana. Saya ditawari batik yang berwarna gelap. Nah, di sinilah permbicaraan hangat itu terjadi.

“Kok musti yang gelap, Cak?”

“Soalnya kulit Bapak putih, jadi warna gelap supaya jadi netral,” begitu kata Cak Mansyur. Menurutnya, batik bermotif gelap dapat mengubah penampilan si pemakainya, sehingga tidak mencolok mata jika dipakai di siang hari. Sedangkan jika memakai motif berwarna cerah, maka dikuatirkan dapat menarik perhatian orang lain, dalam konotasi negatif.

Entah dari mana alasan Cak Mansyur ini, yang jelas yang saya ingat, kepala saya manggut-manggut saja. Belum lupa dari pikiran saya, kalau cara Cak Mansyur mengungkapkan pendapat sangat meyakinkan, bahkan lebih top daripada teriakan penjual obat di pinggir jalan.

Cak Anak yang saat saya berjumpa mengenakan batik bermotif coklat tua, memang terlihat necis dilihat. Kulitnya yang putih dan perangainya yang murah senyum, membuktikan bahwa bahasa tubuh seorang penjual batik mampu meluluhkan hati setiap pembali. Saya tak kuasa berdebat soal batik, sehingga memunculkan sikap ‘trust’ kepadanya.

Saya pun jadi ingat pesan istri saya, supaya membeli batik yang bercorak cerah. Nah, saya jadi pusing juga jadinya. Daripada beresiko ‘diomeli’ istri saat pulang ke rumah, saya memutuskan untuk membeli yang bermotif gelap. “Batik warna cerah mana yang cocok buat saya?”

Cak Mansyur pun tersenyum. Dipilihnya batik berwarna cerah yang terletak di atas rak. Sepertinya, batik yang ditawarkan cocok dengan selera saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli batik berwarna cerah dan gelap. Kelar persoalan. Untuk 2 stel baju batik ini, saya hanya mengeluarkan uang Rp. 100 ribu.

Saya pun pulang, dan istri di rumah senang. Saat menulis ini, saya jadi ingat persoalan saya, yakni istri mewanti-wanti untuk membeli batik bermotif cerah, sedangkan Cak Mansyur menyarankan batik bermotif gelap. Meski persoalan ini terlihat sepele, namun akhirnya saya mendapati sebuah jawaban, yang ada di batik itu sendiri.

Ternyata, batik mampu menjadi solusi dari masalah sulit yang saya hadapi, bahkan dapat mengkompromikan dua unsur berbeda, yakni gelap dan cerah. Jika yang saya hadapi adalah membeli kemeja, tentu persoalannya jadi ‘hitam dan putih’. Tetapi karena yang saya hadapi adalah batik cerah dan gelap, maka saya hanya menemui jawaban yang dapat diakomodir oleh ‘corak’ batik itu sendiri.

Bagi saya, batik adalah warisan budaya yang lebih penting dari unsur yang melekat di baju. Kain batik mampu mempererat kebersamaan yang pada akhirnya menggugurkan konflik paradigma.

Meski saya tak tahu bagaimana cara para disainer batik menciptakan motif batik, tapi yang jelas, baik di Jawa maupun luar Jawa, memiliki tujuan yang sama, bahwa dalam pemberian desain batik mengandung filosofi serta mempunyai arti tertentu.

Saya sebagai konsumen batik tentu berharap, pengakuan internasional melalui UNESCO atas batik Indonesia sebagai warisan budaya bangsa, hendaknya tidak selesai begitu saja, namun harus tetap dilestarikan oleh generasi mendatang, dan harus terus menerus dikembangkan, sehingga batik sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia tetap lestari. [jackson kumaat]

Posted November 29, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Idul Adha Bagi Seorang Kristen

SEPANJANG hari ini nikmat luar biasa. Ruas-ruas jalan ibukota tampak sepi dari kendaraan bermotor. Suasana Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta, tampak lengang, hanya dilalui beberapa kendaraan saja. Padahal pada hari-hari biasa, lalu lintas di jalan utama Ibu Kota itu selalu macet.

Suasana Idul Adha hari ini, memang bukan seperti Hari Idul Fritri. Jika saat Lebaran, Jutaan warga Jakarta mudik lebaran, membuat Ibu Kota sepi dan lengang. Tapi untuk kali ini, saya sungguh menikmati suasana berkendara tanpa Agus, sopir saya. Saya, istri dan dua anak saya tercinta, berkendara keliling ibukota untuk menikmati suasana sepinya Jakarta.

Berkendara dengan kecepatan di atas 60Km/jam adalah kejadian langka bagi warga Jakarta. Kini, suasana itu saya nikmati bersama keluarga. Sengaja kami tak ke Ancol, Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan, karena yang saya tahu tempat itu ramainya bukan main. Saya tak mau kerepotan berpeluh keringat lantaran sesak oleh pengunjung yang ingin berlibur bersama keluarga.

Saat di perjalanan tadi, seorang sahabat beragama Islam mengirim pesan singkat SMS. Kemudian saya minta istri saya untuk membalas SMS tersebut, bahwa saya tak merayakan Idul Adha. Begini balasan SMS saya, “Dengan segala hormat, Sahabat, izinkan saya seorang Kristen untuk menyampaikan salam hangat kepada keluarga, sekaligus mengucapkan Selamat Idul Adha. Kiranya, persahabatan kita abadi selamanya. Teriring salam, Jackson”.

Rupanya, SMS saya direspon dengan telepon, dan kami diundang berkunjung ke rumah beliau. Kebetulan posisi laju mobil sedang mengarah ke Menteng Jakarta Pusat, lokasi sahabat saya. Kami pun mampir, untuk bersilaturahmi. Sungguh, ini adalah pembicaraan yang hangat. Tak ada sekat yang memisahkan antara Kristen dan Islam. Yang ada bagi saya adalah, layaknya kunjungan seorang adik ke kakaknya.

Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, hati saya ceria secerah cuaca ibukota hari ini. Saya kurang paham tentang makna Idul Adha. Tapi saya yakin, bahwa kunjungan saya ke rumah Muslim di saat Idul Adha, merupakan salah satu bentuk kerukunan antar-umat beragama. Saya juga percaya, bahwa kedekatan saya dengan orang lain yang beragama Islam, tak mengganggu keyakinan iman saya. Indahnyanya hidup rukun dan damai. Sekali lagi, selamat Idul Adha bagi sahabat-sahabat saya yang merayakannya.

Posted November 27, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Jakarta Berkabut

CUACA di langit Jakarta saat ini, lagi sulit ditebak. Saat berangkat ke kantor pagi tadi, cuaca cukup cerah, tapi tiba-tiba hujan mengguyur di tengah kemacetan yang rutin menghadang ibukota.

Saat mentari terbit, tak seperti biasanya terasa dingin. Saya pikir, kesehatan saya bakal terganggu. Maklum, akhir-akhir ini memang lagi musim penyakit, terutama yang menyerang saluran pernafasan. Tapi ternyata tidak. Di luar rumah, tampak jalan di kawasan Cilandak ini, masih basah tersiram air hujan. Hujan gerimis turun dari langit, mengundang hasrat ingin tidur lagi.

Tapi namanya kerja, ya tetep kerja. Saya coba halau rasa manja tubuh, dengan secangkir bajigur hangat asal Bandung. Nah, semangat kerja akhirnya kembali pulih, mungkin ini didukung juga oleh senyum istri tercinta dan canda anak-anak.

Saat masuk mobil sekitar pukul 7.30 WIB, hujan tiba-tiba berhenti. Saya senang, karena ini bisa menjadi tanda baik ke kantor. Sambil mendengar berita headline surat kabar di radio, saya melongok ke luar jendela. Baru saja ke luar portal kompleks, kemacetan luar biasa membuat saya menghela nafas.

Ada satu yang menarik dalam perjalanan tadi.

Gedung pencakar langit di kawasan Jalan Jendral Sudirman, terlihat samar-samar. Awalnya, saya menduga itu karena kaca mobil yang berembun. Ternyata, setelah saya bersihkan kaca, gedung-gedung itu diselimuti oleh kabut!

Senang rasanya turun kabut di Jakarta. Terakhir, saya kali melihat kabut di Tomohon, tanah kelahiran saya yang memang berhawa sejuk. Uniknya di Jalan Sudirman ini, sejumlah bangunan pencakar langit, terutama yang lebih dari 30 lantai, sudah tidak terlihat ujungnya.

Saya sempat mencatat di ponsel, beberapa gedung yang diselimuti kabut. Menara BCA dan Apartemen Kempinski di kawasan bundaran HI, misalnya, hanya terlihat di bagian tengah ke bawah. Begitu juga yang terjadi pada Menara BNI 46, Topaz Tower dan Sampoerna Strategic Tower, yang kini menjadi icon gedung pencakar langit tertinggi di Indonesia.

Cukup menarik fenomena alam ini. Saya minta sopir saya Agus, ke arah Jl HR Rasuna Said. Dan bisa ditebak, di kawasan Kuningan ini, gedung-gedung jangkung tidak bisa berkelit dari kabut. Gedung tinggi yang saya lihat berkabut adalah Apartemen Bellagio di kawasan Mega Kuningan dan Menara Imperium di dekat fly over Menteng.

Menurut BMG, hingga akhir bulan November 2009, Jakarta dan sekitarnya masih berpotensi turun hujan.

Hampir saja saya larut menikmati kabut. Meski macet jadi resiko, tapi setidaknya saya tak terlambat tiba di kantor. Saya sengaja berbagi kisah kecil ini, agar rekan-rekan Kompasianer tetap ekstra hati-hati berkendara, terutama jika jalan berkabut.

Posted November 27, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Blackberry Melayang Gara-gara Antri HP Rp 100 Ribu

INI bukan fiksi. Ini cerita pengakuan dari perempuan muda, yang baru saya kenal, Mbak Yanti, di Plasa Ex Jakarta. Perempuan cantik ini mengaku kehilanganBlackberry bold-nya, lantaran antri berdesak-desakan saat membeli ponsel merek Nexian dengan kartu Esia.

Ternyata, Mbak Yanti adalah salah satu ‘pengunjung dadakan’ di Plasa Ex. Pertemuaan Mbak Yanti dan saya, terjadi ketika saya sedang menyantap makanan di restoran A&W. Kebetulan saat itu saya sedang haus, dan kepingin menghilangkan dahaga dengan rootbeer. Nah, di kursi makan itu saya bertemu Mbak Yanti yang sesegukan menahan tangis.

“Kenapa Mbak?” spontan saya bertanya.

Mbak Yanti kemudian bercerita. Ia mengaku bekerja di sebuah perusahaan swasta dan tinggal di kos-kosan di kawasan Depok. Hari ini, ia terpaksa berbohong ke atasannya, dengan alasan izin keperluan keluarga. Mbak Yanti merasa tergiur dengan promo iklan di Kompas, yang menyebut adanya launching Nexian-Esia, dengan harga Rp 99 ribu. Seratus ribu? Wah, hati saya tertawa karena kepingin ikut beli. Penjualan dengan harga khusus itu hanya berlaku hari ini.

Saya terpaksa membatalkan niat saya antri, setelah melihat kerumunan orang yang tiba-tiba mendekat ke foodcourt, tempat kami santap siang. Dan tiba-tiba ada bunyi riuh di sebrang blok. Entah, itu mirip bunyi tong sampah yang terjatuh, dan diiringi suara ketakutan pengunjung wanita. Si Jose pun sempat ketakutan. Beruntung petugas keamanan dalam gedung langsung bertindak, dan membuat pagar betis.

Rootbeer saya baru habis setengah gelas. Tapi saya memutuskan pulang, karena melihat ada kemungkinan suasana yang tak beres. Saya dan Jose bergegas ke bawah ke arah parkir mobil.

Selama perjalanan melintasi lorong etalase, saya dapatati ketakutan para karyawannya. Hampir semua etalase memilih tutup, dan berjaga-jaga dibalik rolling door transparan.  Sepertinya, beberapa saat yang lalu, baru saja ada kegaduhan di sini. Ratusan orang tampak hilir-mudik tak tentu arah, kemungkinan hanya mengikuti gerak arus massa yang terbanyak.

Menjelang memasuki tangga darurat, saya menemui seorang perempuan tua yang pingsan, digotong oleh 4 orang patugas keamanan. Wajahnya pucat dan keringat membasahi keningnya.

Saya dan Jose tiba di tempat parkir. Beruntung si Agus sopir saya, sudah stand by di depan mobil. “Aman kan, Pak? Saya baru aja baca beritanya, ricuh pak.” tanya Agus.

Ternyata si Agus saat itu lagi denger radio sambil baca kompas.com. Ia sempat mengontak HP saya, tapi saya tak mengangkatnya. Mungkin saat saya dan Jose sedang berupaya menerobos kerumunan massa. Saat keluar dari Plasa Ex, saya masih melihat kerumunan orang di tempat parkir luar gedung. Di sana ada 2 mobil box yang disemuti oleh ratusan manusia. Mungkin jumlahnya mencapai 1.000 orang, dan ini belum termasuk di dalam gedung, tempat saya makan siang di footcourt.

Saya jadi ingat cerita Mbak Yanti. Kasihan sekali ia harus kehilangan blackberry-nya hanya demi sebuah ponsel baru yang terbilang sangat murah. Mudah-mudahan ia sadar, bahwa taruhan nyawa lebih penting dari itu semua.

Tapi yang jelas, bukan hanya buruknya budaya antri yang saya sorot. Anggap saja satu hari ini ponsel Nexian-Esia bisa terjual 1.000 unit senilai Rp 100 juta. Faktanya, dampak negatif yang diperoleh lebih besar dari itu, yakni banyaknya pengelola etalase yang menutup gerai lebih awal. Ini belum lagi nilai kerugian korban pengantri yang pingsan atau kecopetan. Dan lebih dari itu, kejadian ini adalah preseden buruk manajemen antrian, yang tak beda jauh dengan antri bantuan langsung tunai (BLT).

Mudah-mudahan kejadian ini tak terulang lagi. Sekali lagi, tulisan ini bukan keluhan Mbak Yanti yang juga kepingin ponsel murah, tapi mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi untuk siapa pun, khususnya jika mengelola event besar yang menggunakan embel-embel budaya antri.

Posted November 26, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Gudeg Bu Tina

Sepertinya, sudah lama saya tak menyantap gudeg Bu Tina. Bagi saya, gudeg Bu Tina memiliki rasa yang pas buat selera saya, yang fasih dengan hidangan pedas ala Minahasa.

Gudeg Bu Tina bisa terbilang kurang layak disinggahi. Ini karena lokasinya berada di Stasiun KA Gondangdia, di kawasan Menteng Jakarta. Bu Tina, demikian ia biasa disapa, hanya membuka kios kecil berukuran 2X2 meter. Praktis, pengunjungnya pun terkena ’seleksi alam’, yakni hanya maksimal 8 orang. Nah, kalau ada yang ingin menikmati gudeg Bu Tina, ya terpaksa rela antri waiting list atau sekedar membeli gudeg dalam bungkusan untuk dibawa pulang.

Saya jadi senyum sendiri, ketika pertama kali mengenal Bu Tina. Pagi itu, sekitar 3 tahun lalu menjelang Natal, mobil saya terjebak macet di sekitar Mentang. Saya meminta sopir saya, Agus, untuk mencari jalur alternatif untuk menghindari Tugu Tani. Oala, jalan tikus yang kami tempuh ternyata di luar dugaan, justru malah terjebak kemacetan di sekitar Pasar Gondangdia. Yang saya ingat, gara-gara metromini ngetem dan mogok, kemacetan jadi tak terhindarkan.

Di tengah kemacetan yang tak dapat bergerak, sorot mata saya celingak-celinguk ke sekitar. Saya pun turun dari mobil dan berjalan ke arah stasiun, sekitar 3 meter dari titik kemacetan, Sopir Metromini itu. Entah apa sebabnya, mata saya kok ke arah kios Bu Tina. Padahal, di situ ada banyak kios. Mulai dari nasi uduk, ketupat sayur, gado-gado dan warung Padang. Saya pun langsung duduk di bangku papan yang saat itu terisi dua orang.

“Gudegnya pake apa, Mas,” begitu kata wanita tua itu.

Mendapat ’serangan fajar’ dari penjual, mata saya arahkan ke menu yang tersaji. Di situ ada ayam opor, ayam goreng, hati-ampla, telur rebus, dan tahu-tempe. Sebenarnya, baru kali ini saya makan di pinggir jalan, karena saya sudah terbiasa menyantap sarapan buatan istri. Meski perut belum lapar, apalagi saat itu masih sekitar jam 9 pagi, saya langsung menyahut saja. “Nasi setengah pake ayam opor ya, Bu,” begitu saya bilang.

Tak beberapa lama, hidangan pun tiba. Aroma nasi hangat dan ayam opor pun datang. Dan detik itu pun nafsu makan saya muncul. Saya sudah lupa gimana nasib mobil saya yang terjebak oleh metromini di depan Pasar Gondangdia. Saya juga tak peduli di mana Agus akan memarkir mobil untuk menunggu saya. Yang ada di kepala saya, nikmatnya bumbu opor dan sambal yang menyatu di lidah. Daging ayam yang lembut, bahkan tak perlu lelah mengunyah, sudah masuk ke lambung saya. Teh hangat pun langsung saya minum, tak peduli leher saya masih terjepit oleh dasi dan kerah baju tertutup rapat.

Itulah titik awal ‘cinta pertama’ saya dengan gudeg. Makanan khas awal Jogja ini, ternyata sudah menciptakan sebuah kenikmatan sarapan pagi model baru dalam kehidupan saya, meski hanya berada di bawah stasiun dan tepat di depan pasar Gondangdia. Apalagi harganya yang relatif murah, yakni dengan menu tahu-tempe Rp 8 ribu dan ayam opor Rp 12 ribu.

Titik tersebut yang membuat mata hati saya terbuka. Ternyata bagi Bu Tina, dua bangku papan yang tersedia ibarat mesin uang setiap pagi hari. Ia pun bercerita, bagaimana harus terbiasa menyiapkan bahan baku di malam hari, kemudian bangun pagi menjelang subuh.

Ketika kereta api (KRL) tiba di stasitun, maka di situlah roda perekonomian bergerak. Mulai dari pedagang koran eceran, pemilik kios rokok, makanan ringan, hingga kios-kios di sepanjang Stasiun Gondangdia, juga mulai turut berktivitas. Sebuah kebijakan pemerintah, yang pada akhirnya juga menggerakan sektor ril.

Saya sempat terkejut, ketika Bu Tina kembali bercerita, kalau anaknya sedang menjanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Mulai pagi hingga siang hari, ia dan beberapa pembantunya dapat menjual 100 porsi nasi gudeg. Karena seporsi bervariasi antara Rp 7-12 ribu, maka kios Bu Tina bisa menghasilkan pendapatan antara Rp 700 ribu hingga Rp 1,2 juta per hari.

Meski demikian, bukan berarti dagangan Bu Tina berjalan tanpa masalah. Setiap harinya, ia harus siap dipusingkan oleh pungli di stasiun, jatah preman maupun pengemis yang kelaparan. Untungnya, Bu Tina punya trik-trik khusus untuk menghadapi itu. Tapi bagi saya, itu adalah kelihaian seorang ibu berusia 50 tahun dalam berbisnis di pusat ibukota.

Dan tadi pagi sebelum menulis ini, saya sempatkan mengunjungi kios Bu Tina. Belum ada perubahan sejak terakhir saya ke tempat itu sekitar 6 bulan lalu. Bedanya, saat ini sejumlah pengemis mulai berkeliaran di sekitar stasiun, sedikit mengurangi kenyamanan menikmati sarapan.

[Jackson Kumaat, Stasiun Gondangdia Jakarta]

Posted November 26, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Hemat Listrik, Siapa Berani?

GELI rasanya membaca berita ini di kompas.com. Judulnya, “Krisis Listrik, Instansi Pemerintah Harus Berhemat“. Saya kok rasanya pesimis tindakan itu akan dilakukan, meskipun akan ada instruksi presiden (inpres) yang isinya meminta instansi pemerintahan melakukan penghematan. Lha wong gimana mau berhemat, jika aliran listrik lagi padam. Malah, Pak Menakertrans aja pernah jadi korban pemadaman listrik.

Saya berpikir, pemerintah saat ini terlalu naif menghadapi krisis listrik. Bagi saya, upaya penghematan dengan cara memadamkan sebagian aliran listrik yang dianggap tak perlu, sudah tak mampu dilakukan. Segala macam kampanye penghematan aliran listrik, tidak mungkin dilakukan secara seragam. Apalagi di sektor industri, kini terpaksa malakukan cara-cara khusus untuk menyiasati jadwal pemadaman bergilir yang dilakukan oleh PT PLN.

**

Dalam konteks ini, kita semua mungkin sepakat bahwa energi listrik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Contoh sederhananya, ya menulis di kompasiana ini, sudah barang tentu menggunakan komputer, laptop atau ponsel jenis tertentu. Sejak saya pertama kali menulis di kompasiana dengan semangat anak muda yang menggebu-gebu pun, saat itu membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Mohon dimaafkan, jika saya masih rada gaptek dan orang baru di dunia blog. Jadi, saya belum bisa berhayal sambil menulis 1 judul di bawah satu jam. Lantas, apakah itu yang dinamai pemborosan energi listrik?

Kembali ke soal rencana Pemerintah untuk kembali mengeluarkan instruksi presiden. Meski instansi pemerintah melakukan penghematan listrik akibat kekurangan pasokan listrik di Indonesia, saya berpikir hal itu harus dijabarkan lebih rinci. Jangan sampai malah menurunkan kinerja pegawai negeri sipil, lantaran banyak komputer dimatikan hanya untuk menghemat aliran listrik. Apalagi, jika kantor-kantor kelurahan, imigrasi dan bea-cukai memadamkan komputernya, wah bisa-bisa antrian urusan birokrasi dan administrasi panjangnya sampai ke jalan raya.

***

Nah, bagaimana menghemat listrik di kantor?

Pertama, penghematan ditujukan pada perangkat elektronik yang tidak terlalu dibutuhkan. Misalnya mematikan sebagian besar penyejuk udara AC, dan kemudian menambah heksos di beberapa ruang tertutup. Heksos ini sudah saya coba gunakan di rumah, dan hasilnya cukup membuat udara segar. Dan, kini rumah kami terasa nyaman tanpa AC, terlebih saya sudah berhenti merokok. So, berhentilah merokok di dalam ruangan, karena asap rokok membuat kinerja AC lebih maksimal, sehingga memboroskan aliran listrik.

Kedua, ubah kebiasaan dan (jika perlu) ganti alat elektronik yang menyedot banyak aliran listrik. Pompa air dan kompor listrik biasanya ada di kantor pemerintah. Nah, sudah saatnya menggunakan bak penampung, sehingga pompa air hanya dinyalakan pada pagi dan siang hari saja. Untuk kompor listrik, sudah saatnya di-museumkan, dan ganti ke kompor gas. Bagi yang biasa ngopi atau nge-teh, mbok ya hanya pagi saja. Beranikah aparatur pemerintah mengubah gaya hidup ini? Hmm…

Dan ketiga, aksi-hemat listrik hanya bisa dilakukan dengan keteladanan pemimpin. Jika pemimpin di kantor-kantor pemerintahan malah cuek dengan inpres, ya jangan disalahkan anak buahnya yang boros menggunakan energi listrik.

Ketiga hal di atas hanya sebagian kecil yang bisa jadi cara menghemat listrik di instansi pemerintahan. Apalagi kabarnya, gerakan ini juga dimotori oleh Gubernur DKI Jakarta Pak Foke, yang akan menerapkan hemat listrik di kantor swasta dan pusat-pusat perbelanjaan. Sebagai rakyat jelata kita hanya bisa nrimo saja atas kebijakan ini. Bisa juga klik ini, untuk mengetahui tips-tips menghemat aliran listrik di rumah tanpa AC.

Dan terakhir, jika kita sudah melakukan upaya-upaya menghemat listrik di saat krisis energi, maka tak salah jika bicara soal masa depan energi listrik di Tanah Air. Jadi, sebagai warga negara yang baik, adalah tanggung jawab siapapun untuk memberi kritik dan saran.

Saat ini tak ada waktu untuk saling menyalahkan, siapa atau instansi mana yang menjadi penyebab krisis listrik. Saya sekarang sudah tak tega ngomel-ngomel lagi lewat hot line 123 PLN, karena sebenarnya inti masalah krisis ini ada di grand design kebijakan jangka panjang pemerintah. Jadi, penanganannya bukan hanya 5 tahun di pemerintahan saat ini, tapi harus lebih dari jangka waktu tersebut. [jackson kumaat]

Posted November 22, 2009 by Jackson Kumaat 
// 1 Comment

‘The Distinguished Gentleman’ dan Polemik Larangan Siaran Langsung

SEPANJANG hari ini, saya sangat bergairah. Mungkin, ini lantaran tumben-tumbennya PLN tak memadamkan aliran listrik di rumah. Saya pun menikmati pagi indah tadi menjelang ke kantor dengan menonton film melalui DVD player.

Ternyata, sudah lumayan banyak film koleksi saya. Saya jadi bingung memilih film terbaru, karena demikian tertata rapi oleh istri saya. Kebetulan, kami memang memiliki hobi yang sama menonton film, terutama film original. Bukannya karena gengsi, tapi memang benar adanya, bahwa film original membuat awet perangkat DVD player.

Dari beberapa film terbaru, mata saya justru terpaku dengan tumpukan film lama. Entah kenapa, pilihan saya jatuh pada The Distinguished Gentleman, film tahun 1992 yang dibintangi oleh aktor kulit hitam Eddie Murphy. Awalnya saya hanya senyum-senyum sendiri menahan tawa, tapi tawa saya meledak di titik klimaks film itu. Silakan klik ini dan ini, untuk menyaksikan salah satu aksi Eddie Murphy.

Namanya film Hollywood, tentulah ada tokoh utama dan pemeran antagonis. Bahkan, situasi akan menjadi menarik jika kedua tokoh berhadapan langsung menjelang akhir skenario. Film ini pun hampir berhasil mengecoh saya, untuk membedakan film fiksi dan non-fiksi.

**

Beberapa saat lalu, saya sempat membaca tulisan “Jika Siaran Langsung Ditiadakan KPI” yang ditulis Pak Erfano Nalakiano. Wah, saya jadi terinspirasi kepingin menulis. Terlebih setelah menyaksikan The Distinguished Gentleman. Bagi saya, pro-kontra siaran langsung seharusnya dapat bercermin dari film The Distinguished Gentleman. Saya tak dapat membayangkan, jika sebuah kasus besar atau skandal negara ditutup-tutupi, sehingga publik tak dapat mengetahui informasi yang sebenarnya. Padahal, sudah menjadi tanggung jawab setiap warga negara, termasuk pers, untuk mempublikasikan sebuah kebenaran, meski penuh dengan resiko.

Saya sangat setuju dengan opini kalangan pegiat HAM, bahwa larangan menggelar siaran langsung persidangan melanggar ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Apalagi prinsip hukum di Indonesia berbeda dengan di AS, yang membatasi publikasi pers di arena persidangan. Menurut pasal 153 Ayat (3) KUHAP, untuk keperluan pemeriksaan, hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak. Jadi sudah jelas, bahwa semua sidang terbuka untuk umum dan bisa mendapatkan liputan media secara langsung  kecuali dalam beberapa kasus.

***

Akhirnnya, selagi aliran listrik di rumah saya masih menyala, mohon agar pengelola stasiun TV dapat menyiarkan segala sesuatu untuk masyarakat, baik itu informasi maupun hiburan. Soal kekhawatiran dampak buruk bagi anak-anak, biarlah itu menjadi tanggung jawab para orang tua. Justru dengan kehadiran orang tua di depan televisi bersama anak-anak, maka akan terjadi komunikasi harmonis, layaknya keluarga sakinah.

Pembatasan siaran langsung persidangan seharusnya bukan ketentuan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), karena batasannya seharusnya adalah kode etik jurnalistik. Saya yakin, jika siaran langsung tetap dilakukan di televisi dan jika mungkin nantinya di media online, maka tak akan ada lagi kasus hukum yang ditutup-tutupi. [jackson kumaat, yang sedang menikmati kompasiana dengan komputer karena listrik masih menyala]

Posted November 22, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Jackson Kumaat Incar Papan II PDIP

Selasa, 17 November 2009

Manado—Jika banyak figur yang mengincar kursi calon Gubernur (Cagub), lain lagi yang diperlihatkan figur muda Jackson Andre William Kumaat. Justru dirinya lebih memilih menem-patkan cebagai bakal calon Wakil Gubernur (Wagub), karena posisi ini juga menjadi bagian dari perpanjangan tangan rakyat dalam pembangunan.
Sekjen DPP Partai Karya Perjua-ngan (Pakar Pangan) ini pun mendaftarkan diri sebagai balon Wagub di PDIP di sekretariat pendaftaran Cagub/Cawagub PDIP, Senin (16/11) kemarin, dan diterima dengan baik oleh pe-tinggi PDIP termasuk ketua PDIP Sulut Freddy Harry Sualang (FHS) bersama tim penjaringan. “Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas tekad dan keberanian bung Jackson (Kumaat,red) untuk mendaf-tarkan diri sebagai Cawagub di PDIP. Saya kira ini akan menjadi rekor karena bung Jackson men-jadi bakal calon Gubernur ter-mudah,” ucap FHS yang disam-but Kumaat dan timnya.
Menyambut apresiasi yang diungkapkan FHS, Kumaat pun menyatakan dirinya tidak mau mengganggu kader-kader PDIP di penjaringan ini karena dia sadar kalau dirinya bukan kader PDIP. “Saya sadar saya bukan kader PDIP karena saya kader partai lain (Pakar Pangan,red), tapi saya berani mendaftar di PDIP karena tekad saya sama dengan PDIP yang memper-juangkan hak-hak warga wong cilik. Saya akan mengangkat nilai warga Sulut menjadi masyarakat yang lebih disegani,” terang Kumaat.
Sebagai loyalitas, dirinya ber-janji tidak akan mendaftar di partai lain selain PDIP. 
“Saya punya komitmen kuat dan punya loyalitas tinggi, dan saya akan tunjukkan kalau saya tidak akan mendaftar lagi di partai lain selain di partai ini (PDIP,red). Kalau saya diijinkan jadi calon Wagub nantinya dari PDIP, saya akan berkomitmen dengan PDIP dan rakyat Sulut,” tukasnya.(dewe)

http://swarakita-manado.com/v4/index.php/berita/sulawesi-utara/2092-pilgub-2010.html

Posted November 16, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

PLN Nyaris Membunuh Ide


SHUTTERSTOCK

SHUTTERSTOCK

SEPANJANG minggu ini saya benar-benar bete! Entah dari mana istilah ‘bete’ itu, tapi yang jelas, saya dibuat pusing dengan tindakan PT PLN melakukan pemadaman aliran listrik secara bergilir. Bukan alasan PLN memadamkan listrik yang saya keluhkan, tapi ‘aksi-giliran’ itu yang tak dapat diterima akal sehat.

Jadwal pemadaman bergilir ini dilakukan, menurut Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar, akibatadanya gangguan teknis pada Interbus Trafo (IBT) I Gardu Induk Kembangan tanggal 27 September 2009 dan ganguan pada IBT II Gardu Induk Cawang tanggal 29 September 2009, yang berdampak pada berkurangnya pasokan listrik ke wilayah kerja PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang.

Awalnya, saya merasa kurang pantas menulis keluhan saya sebagai pelanggan PLN di kompasiana ini. Apalagi, sebenarnya banyak ruang surat pembaca yang tentunya tepat, sebagai saluran uneg-uneg layanan publik, seperti misalnya kompas.com. Dalam konteks ini, saya ingin berbagi pengalaman yang kurang mengenakkan–bahkan bisa dibilang menjengkelkan–ketika aliran listrik di rumah padam.

Pertama, kebutuhan energi listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Kenapa bukan sandang? Ya, karena listrik sudah digunakan untuk sumber energi pompa air, memasak nasi (rice cooker), dan penerangan cahaya di waktu malam. Nah, apa yang terjadi jika listrik padam ketika sedang mandi, memasak nasi dan anak-anak belajar di malam hari? Saya, istri dan anak-anak saya hanya bisa menggerutu.

Kedua, kebutuhan listrik sudah menjadi trend hidup di zaman saat ini. Trend tersebut adalah penggunaan energi listrik di saat-saat tertentu. Saya setiap sore menjelang malam, sudah terbiasa menonton berita TV, untuk mengetahui info-info terbaru sepanjang hari. Contoh sederhananya, saya sudah terbiasa men-charge ponsel di waktu malam. Beruntung, mobil saya masih bisa men-charge handphone. Tapi lagi-lagi muncul keluhan pribadi, acara charge handphone harus antri, karena seisi rumah sudah memiliki ponsel.

Ketiga, kebutuhan listrik terkait erat dengan sistem sosial masyarakat. Hari Minggu lalu, saya dan keluarga berencana mengunjungi sanak-famili yang menggelar arisan. Alamak, acara arisan pun dibatalkan, lantaran aliran listrik di rumah bersangkutan terkena pemadaman bergilir. Entah apa alasan mereka. Tapi bisa jadi, lantaran kondisi interior rumah yang membutuhkan aliran listrik, untuk sebuah acara keluarga.

Meski ketiga hal tersebut bagi sebagian kalangan terlihat sepele, tapi ukuran nilai keluhan setiap pelanggan tentu berbeda-beda. Pamadaman aliran listrik secara bergilir bagi dunia industri, menurut saya, sangat terkena dampaknya. Ini karena banyak sektor industri yang sudah sangat tergantung dengan aliran listrik PLN.

Akibat pemadaman, proses produksi terganggu, tenaga kerja harus lembur, dan mesin elektronik rentan rusak. Saya sepakat, apabila PLN tidak sanggup mengelola listrik, pemerintah semestinya mempertimbangkan kembali melepaskan hak monopoli pengadaan listrik oleh PLN. Adakah yang mendukung ide saya ini? Atau, cukup sebatas class action?

Saya tak dapat membayangkan bagaimana kondisi di lapangan. Malah yang saya baca, kalangan pengusaha kesal bukan saja karena listrik yang sering padam, tetapi PLN juga sering ingkar jadwal pemadaman yang ada. Bahkan, selain Jakarta dan sekitarnya, kerugian akibat pemadaman juga terasa, antara lain, di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sejumlah industri pertekstilan misalnya, menuduh PLN sering ingkar dalam menerapkan jadwal pemadaman. Di sektor lain, pusat perbelanjaan Carrefour juga harus menghitung kembali biaya untuk mengalihkan penggunaan listrik ke genset yang menggunakan solar. Bukan hanya biaya, masalah lain juga muncul bagi peritel yang memiliki gedung sendiri apabila genset harus berubah fungsi menjadi pemasok listrik utama.

Di tanah kelahiran saya Sulawesi Utara, ternyata pemadaman listrik secara bergilir, sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Volume pasokan listrik untuk sektor industri perikanan tidak mencukupi sehingga aktivitas produksi tidak maksimal. Kegiatan produksi ikan di Bitung, merosot hingga 50 persen. Pemadaman yang tidak kompromi itu membuat volume produksi menurun. Dampaknya dalam dua bulan terakhir ini sudah 50 pekerja yang harus dirumahkan.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membeli genset. Saya khawatir, pemadaman listrik akan anak-anak, yang saat ini sedang menanti ujian sekolah. Setidaknya, saya dan Anda yang tinggal di Jakarta, atau beraktivitas di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan, masih harus bersabar. Di wilayah ini masih akan mengalami pemadaman listrik bergilir hingga minggu ketiga Desember 2009. Semoga, ide saya menulis di kompasiana tak akan terbunuh oleh padamnya listrik.
[Jackson Kumaat, pertama kalinya mengetik dengan ponsel Nokia E71, karena listrik padam]

Posted November 11, 2009 by Jackson Kumaat 
// 0 Comments

Motivasi Kerja Aparat Penegak Hukum: Gaji, Fasilitas atau Pengabdian?

http://www.polri.go.id/images/profile/lambangPOLRI.gifPERSETERUAN antara KPK versus Polri, tampaknya kian seru. Ibarat sebuah peperangan di abad pertengahan, kubu KPK dan Polri mengerahkan pasukan elit Praetorians untuk melancarkan serangan pamungkas menuju jantung pertahanan lawan.

Dan kini, media massa adalah area medan pertempuran kedua institusi tersebut. Sedangkan pertarungan sesungguhnya di arena pengadilan, sudah mulai tampak di depan mata. Arena pertarungan ala praetorian di Kompasiana pun, juga tak kalah seru.

Meski umumnya mendukung eksistensi KPK, tapi saya ingin menyorot di balik pertarungan kedua lembaga yudikatif ini. Dalam konteks ini, saya berupaya membaca behind of the news dari kasus ini. Untuk kali ini, saya menyoroti gaji aparatur penegak hukum. Benarkah pertarungan ini berawal dari kecemburuan di antara aparat penegak hukum?

Awalnya, saya berusaha bertanya ke beberapa teman yang bekerja di kepolisian. Sebagian enggan mem-blow up isi kantong mereka, tapi ada juga yang terang-terangan, kenapa harus beraksi ‘cekek sana-sini’, khususnya saat memasuki tengah bulan. Jaksa Agung Hendarman Supandji pernah mengeluhkan terjadinya ketimpangan gaji antara jaksa dengan pegawai KPK. Gaji jaksa berkisar Rp 2-3,5 juta, sedangkan gaji pegawai KPK bisa mencapai Rp 20 juta. Wow! http://sandibayuperwira.files.wordpress.com/2009/05/kpk.jpg

Selain ketimpangan soal gaji, juga terdapat ketimpangan dalam biaya operasional. Di Kejaksaan, untuk mengusut perkara sampai penuntutan, hanya disediakan dana sebesar Rp 20 juta. Tapi kalau di KPK, dananya Rp 300 juta. Mungkinkah angka ini setara dengan sebuah pengabdian kepada negara?

Gaji Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar misalnya, merupakan salah satu gaji pejabat negara yang terbesar, yakni sekitar Rp 40 juta. Meski bergaji tinggi, pimpinan KPK kabarnya tidak mendapatkan fasilitas tambahan, seperti rumah, kendaraan, bensin dan lainnya. Misalnya, rumah dinas Jaksa Agung berada di Jalan Denpasar Jakarta Selatan, sedangkan Kapolri berhak menempati rumah dinas di Jalan Pattimura Jakarta Selatan. Keduanya pun mendapat jatah mobil dinas setingkat menteri, Toyota Camry.

Sekali lagi, soal kecemburuan gaji ini menurut saya, bisa merupakan penyebab utama perseteruan KPK dan Polri, tapi bisa juga sebagai faktor pemicunya. Saya percaya akan ada perubahan dalam 100 hari pemerintahan yang baru. Bahkan, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran belanja pegawai mencapai Rp 161,7 triliun dalam RAPBN 2010 mendatang. Angka ini naik Rp 28 triliun atau 21 persen dari perkiraan realisasinya dalam tahun 2009.

Kenaikan anggaran ini ditujukan untuk memperbaiki kinerja birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Selain itu, anggaran juga dialokasikan untuk kenaikan gaji PNS, prajurit TNI/Polri, dan pensiunan sebesar rata-rata 5 persen. Nah, ini kabar baik buat aparat penegak hukum!

Saat ini, Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, memastikan MK akan memutar rekaman percakapan yang dilakukan Anggodo Widjojo dengan sejumlah teman bicaranya dalam sidang terbuka MK pada Selasa (3/11) besok. Apalagi, Tim Pencari Fakta (TPF) Bibit-Chandra sudah dibentuk pemerintah.

So, medan pertempuran sesungguhnya sudah benar-benar di depan mata. Cukup sebatas di pengadilan. Bisa jadi nanti, saya dan Anda, ‘hanya’ menjadi penikmat pertempuran itu. Bisa jadi ada pemenang, bisa juga tidak ada. Setidaknya, penegakan supremasi hukum berlaku di negeri ini. [jackson kumaat, tertulis saat senja di pinggir ibukota]

Posted November 4, 2009 by Jackson Kumaat 
// 2 Comments