Jackson Kumaat
Jackson Kumaat

is an economist who took the concentration of Banking Finance Management at Institut Bisnis Nusantara, Jakarta, now being professional in a number of companies lining in the business of Oil & Natural Gas since 1995, one of them is the contractor in gas processing and the biggest LNG production terminal in the world, i.e., PT. Badak NGL in Bontang, East Kalimantan and some international oil and gas companies operating in Indonesia, including, among others, VICO, UNOCAL, TOTAL and PERTAMINA.


Jackson Kumaat established his own company in 2004, until today, and has been running businesses in the fields of :


1.   In the field of Energy:

a.   Gas management on Java Island and in North Sulawesi


b.   Coal Mining, as the owner of Coal Mining Concession in Sanga Sanga, Kutai Kartanegara, East Kalimantan and in Sorong, West Papua, all are conducted under strategic cooperation with international big Company: Noble Group.


2.   In the field of Mineral:

Owner of Gold Mining Concession in North Sulawesi, including 5 concession, from Minahasa until Bolaang Mongondouw, and cooperates with international companies in Hong Kong.


3.   In the field of Agriculture:

Has 100.000 hectares of soybean plantation and Crushing Plant for Soybean in North Sulawesi.


Jackson Kumaat also underwent Law education in 17 August University, Jakarta, and understands much about law products in Indonesia, including Company Laws, Mining Laws, Taxation laws, Labor Laws, Banking Laws, Operational Agreement Contract Administration and Mine Closure.


Establishing a law firm called Nusantara Prime Law, and has multinational clients and National Company Clients.


Jackson Kumaat is also active in the field of politics, as an organizational activist, and has also enough experiences. He wrote a history through establishing a party and becomes the President and the Secretary General of General Election Member Political Party in Indonesia, has very good relationship with the Government and the Parliament Members in the levels of national, province and districts as well as cities, so that he can understand the purpose and objective of the developing of Laws, Regulations, Policies, either issued by the Government or the Indonesian Parliament. He is recorded as the committee member and leader of business organization of Indonesia Chamber of Commerce (KADIN) and Industries, HIPMI (Indonesia Young Entrepreneur Association), NGO (Non Government Organization) and foundations lining in social, culture and religion fields.

Laconi.ca/Identi.caPlurkBlogger

Search

January 16th, 12:57am 0 comments

Berbicara Pemanasan Global di Dinginnya Forum APEC

TAMPAKNYA tak banyak media nasional yang tertarik pada pertemuan APEC (Asia Pasific Economic Corporation), di Big Sky Montana Amerika Serikat, pada pertengahan Mei 2011. Saya yang hadir dalam pertemuan itu bisa memaklumi, karena bisa jadi iklim politik dalam negeri yang sedang ‘hot’ mempengaruhi daya tarik media massa.

 

Tanpa bermaksud melangkahi peran pers sebagai pusat informasi, izinkan saa berbagi pengalaman selama berlangsungnya APEC. Sebelumnya, di tulisan ‘Promosi Pariwisata sambil Bernyanyi‘ saya mengungkapkan apresiasi warga AS dan Indonesia saat paduan suara Gema Sangkakalamengumandangkan sejumlah lagu. Saya yakin, dengan nyanyian dapat mencairkan kebekuan suasana-apalagi di AS sedang musim dingin-sekaligus menyampaikan pesan damai dari Bumi Pertiwi.

Salah satu kebanggaan sebagai warga Indonesia di negeri seberang adalah disediakannya tempat dan kesempatan bicara oleh Sang Tuan Rumah. Pemerintah AS dalam hal ini diwakili oleh Ms Giinger Lew, mempersilakan ketua tim rombongan Indonesia, SH Sarundajang yang juga Gubernur Sulawesi Utara itu, untuk membahas topik Small and Medium Entreprise Scale (SME’s).

Dalam pertemuan tingkat menteri dan representatif 40 negara anggota APEC itu, Sarundajang menyampaikan pengalaman Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara, yang kini semakin pro-aktif melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan. Ini merupakan jawaban atas tantangan perubahan iklim, menyusul rusaknya sistem lingkungan hidup karena ketidakcerdasan manusia atau negara di dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Ms Giinger Lew yang juga salah satu eksekutif Gedung Putih (Tim Eksekutif Presiden AS Barack Obama), turut mengapresiasi Indonesia yang tetap mengedepankan kerja sama antar-negara, dalam mempersiapkan strategi bersama dalam menanggulangi problem kemiskinan dunia.

Dalam respon Ms Giinger Lew, untuk menghadapi semakin kompleks tantangan dan kebutuhan manusia seiring dengan bertambahnya populasi penduduk, maka dunia harus mampu menyiapkan strategi baru yang diharapkan bakal semakin terfokus pada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Ketimpangan dunia yang ditandai dengan perbedaan taraf hidup antar-bangsa, harus diminimalkan untuk dapat menciptakan dunia yang damai. Di sini persoalan keadilan harus dikedepankan, sebab dengan bertumbuhnya keadilan, maka damai yang menjadi cita-cita bersama bisa dicapai.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal turut merespon positif konsep pemikiran yang disampaikan delegasi Indonesia. Menurut Dubes Dino Patti Djalal, Indonesia telah memberi sumbangsih pemikiran terhadap berbagai kebijakan APEC dan Amerika Serikat selaku penggagas forum ini.

“Indonesia menjadi role model terkait ekonomi di bidang usaha kecil dan menengah (UKM). Indonesia telah direpresentasikan sebagai bagian penting dalam diplomasi global di bidang iklim. Indonesia juga secara kritis menyampaikan pentingnya perwujudan komitmen pengurangan emisi dalam rangka meredam pemanasan global,” kata Dino Patti Djalal.

Selama berlangsungnya APEC, saya lihat isu pemanasan global masih menghangat, meskipun isu-isu seperti demokratisasi dan terorisme disorot media massa. Dengan forum APEC itu, kami dari delegasi Indonesia turut mengungkapkan komitmen Indonesia dalam mereduksi emisi dari 26 persen ke 20 persen dari ambang batas pada tahun 2020. Kami mampu merespon dengan baik dan justru meminta agar negara maju seperti Amerika serius dalam mengimplementasikan komitmen mengurangi emisi CO2. Apalagi, Indonesia juga secara kritis menyampaikan pentingnya perwujudan komitmen pengurangan emisi dalam rangka meredam pemanasan global.

13068213961352441420

Posted